Tukang Sihir

Dalam panjang waktu 35 tahun hidupnya, Elda Rahmi, atau biasa dikenal oleh tetangga sebagai bu Arman, sama sekali tidak pernah percaya dongeng tentang kuntilanak atau genderuwo. Pernah mungkin, dulu waktu ia masih kecil. Tapi bukankah semua anak kecil selalu percaya hal-hal mistis? Namun, sejak ia sudah remaja ia tahu itu semua hanya dongeng isapan jempol yang sekali dua kali saja ia percaya ketika ia harus datang melayat atau pergi ke pemakaman. ‘Lho, bukankah tidak ada juga manusia yang mau ditempeli sawan-sawan kuburan?’, pikirnya. Tetapi, mau tidak mau sekarang ia termakan juga oleh cerita ibu-ibu tetangga. Ternyata memang tukang sihir itu ada. Dan jumlahnya ada 3. Dan mereka tinggal tepat di muka rumahnya. Di rumah kecil tipe 36 dimana sebuah mobil sedan tua terparkir di bawah naungan atap garasi yang agak menjorok ke muka. Hanya saja, Elda tahu, tukang sihir jaman sekarang telah bertransformasi. Mereka bukan lagi tukang sihir seperti dalam dongeng Putri Salju. Sekarang mereka adalah perempuan-perempuan tak tahu diri yang tinggal di rumah depan itu.

Tiga tukang sihir itu memang tidak lain adalah tetangganya. Seorang diantara mereka bernama Dian. Mungkin berusia sekitar 30an awal seperti dirinya, atau setidaknya akhir 20an. Kulitnya putih dan tinggi semampai. Badannya bagus seperti model. Elda menyadari itu ketika beberapa anak ABG laki-laki tiba-tiba suka membantunya membawa belanjaan berat dari supermarket di depan kompleks. Sedangkan untuknya? Puah, biar dibayarpun anak-anak itu tak mau. Tukang sihir kedua bernama Intan. Sedikit gemuk badannya dan agak pendek dari kebanyakan orang. Tapi Elda juga sadar, tukang sihir kedua ini cukup menarik bagi laki-laki. Ia suka sekali memasak dan mengantarkan kue ke rumahnya…yang meski enak, sedikit enggan ia makan. Elda yakin, Intan sedang bermain mata dengan suaminya, mas Arman. Mas Arman suka sekali menyindir-nyindir Elda dan membanding-bandingkan makanannya dengan makanan buatan Intan sejak Intan sering mengantarkan makanan. Kesal Elda dibuatnya. Lalu yang terakhir adalah Sari, si tukang sihir termuda. Usianya mungkin masih pertengahan 20an, tapi wajahnya seperti mahasiswi semester awal. Meski Sari tidak pernah menggoda suaminya, namun Elda sering kesal karena Sari sering kali mondar-mandir di depan rumah dengan memakai celana pendek. ‘Huh, mentang-mentang kakinya bagus’ sungut Elda setiap kali ia melihat Sari lewat. Ketiga tukang sihir itu katanya bukan kakak beradik, tetapi mereka berteman saja dan memutuskan tinggal serumah. Rumah itu kabarnya milik Dian, tukang sihir pertama, yang rupanya paling sukses diantara ketiganya. Katanya Dian bekerja sebagai GM sebuah hotel bintang 3 di pusat kota, sedangkan Intan mengelola sebuah toko roti dan kue yang lumayan terkenal. Tapi tak mau-mau lagi Elda datangi toko itu seumur hidupnya, tidak meski Alisa, anak perempuannya yang berumur 8 tahun, merengek-rengek minta dibelikan. Sedangkan Sari, entah dimana Sari itu bekerja, toh Elda juga tak mau tahu.

Pagi itu, seperti biasa, Elda mengumpulkan cerita tentang tukang-tukang sihir itu dari ibu-ibu tetangga yang sama-sama asyik memilih sayur di keranjang dagangan Samsul, si tukang sayur keliling.

‘Bu Arman…sampun pirso belum? Tadi malam mbak-mbak itu pulangnya pagi lho…’ ujar bu Wahyu yang sudah agak sepuh. ‘Saya sama suami sendiri yang lihat…’

‘O iya to bu? Jam berapa pulangnya?’ tanya Elda langsung menimpali.

‘Wah pagi sekali bu…barangkali jam 2, lha wong saya dan suami sedang siap-siap mau tahajud’ ujar bu Wahyu.

‘Eh…iya lho bu…’ bu Yakob menambahi, ‘saya juga denger…dan ini bukan pertama kalinya…mungkin setiap minggu begitu kelakuannya’.

‘Eh eh bu….sssttt’ bu Adi berbisik, ‘Ini saya denger dari suami saya lho bu…kan suami saya sekantor dengan mbak Sari itu,…katanya mbak Sari itu selingkuhannya bos, makanya dia itu diusir sama orang tuanya dan tinggal disitu’ ujarnya, ‘mungkin biar pacarannya aman, ya bu?’ bu Adi menambahkan sambil sedikit terkekeh.

‘Ah masa bu? Yang bener?’ Elda segera bertanya untuk memancing, ‘sepertinya saya lihat mbak Sari itu orangnya baik-baik…’

‘Lho itu kan kata suami saya, bu. Habis, kata suami saya, masa masih anak baru jabatannya cepat naik? Kalo ga karena ada apa-apa dengan bos kan ga mungkin…ya to?’ jawab bu Adi. ‘Suami saya saja sudah lama bekerja, eh…jabatannya masih segitu-gitu aja…’

‘Wah ga nyangka ya bu…?’ bu Wahyu langsung berkomentar sambil menyomot seikat kangkung dari keranjang Samsul.

‘Wahhh….ini ga bisa dibiarkan, bu’ ujar bu Yakob lagi, ‘Mau jadi apa kompleks kita nanti?…apa sebaiknya kita ngomong sama pak RT?’

Bu Adi segera menimpali, ‘Mungkin begitu ya, bu…dan bu, saya denger ga cuma mbak Sari itu yang bermasalah…mbak Intan dan mbak Dian itu…denger-denger…lesbi, lho bu…. Makanya anak saya ga saya bolehin bantu-bantu bikin kue disana minggu lalu….’

Astaghfirlauhaladzim…’ bu Wahyu terkejut. ‘Waduh…kok ono to sing koyo ngono? Duh Gusti…’ ujarnya sambil mengelus dada.

‘Yah…begitu yang saya tahu, bu…’ ujar bu Adi.

Malam itu, dengan semangat 45 Elda mengambilkan sepotong brownies untuk suaminya ketika mereka sudah selesai makan malam. ‘Mas…ini brownies dari mbak Intan…’ ujarnya menyodorkan.

‘Wahhh…ada brownies…wah pasti enak ini bikinan mbak Intan’ mas Arman, suaminya, berkata sambil menerima sepiring brownies yang disodorkan padanya.

‘Eh eh mas…tau ga…katanya bu Adi…mbak Intan itu lesbian lho…sama mbak Dian. Makanya mereka ga nikah-nikah…padahal sudah berapa umurnya, kan?’

‘Ah masa sih?…Kamu ini nggosip aja…sama bu Adi lagi. Dia kan tukang gosip’

‘Lho…bu Adi taunya dari sumber terpercaya lho, mas…Mas ini, dikasih tau ngeyel’

‘Ya sudah, mau lesbi mau ga lesbi, trus kenapa?’ ujar suaminya sambil memotong brownies di hadapannya dengan garpu.

‘Itu kan ga bener, to mas? Melenceng dari akidah agama…’ jawab Elda, ‘ibu-ibu mau melaporkan ke pak RT’.

Arman, suami Elda, segera meletakkan garpunya ke piring. ‘Ngapain to? Kayak gitu aja kok dilaporkan ke pak RT? Ah, ada-ada aja. Yang diurusi ya urusan sendiri aja, Ma…kok ikut campur urusan orang?’

‘Ah…mas naksir kan sama Intan itu…makanya belain terus’ Elda bersungut-sungut.

‘Lho, kok jadi gitu?’ suaminya mengernyit.

‘Ah…wis…sudah…males aku cerita ke mas Arman’ Elda segera berlalu dari hadapan Arman.

‘Mami…aku sebel deh sama Rani itu…dia itu penjilat’ ujar Alisa sambil mengoles selai cokelat di atas rotinya ketika sarapan keesokan harinya.

‘Kenapa memangnya, sayang?’ tanya Elda pada Alisa.

‘Mentang-mentang dia cantik…dia selalu ditunjuk sama bu Ani buat ikut lomba…padahal dia nggak pinter…dia penjilat’

‘Masa sih Rani ga pinter, bukannya kemaren dia rangking 1?’ Arman ikut berkomentar.

‘Itu kan karena dia nyontek…’ ujar Alisa lagi.

‘Memang kamu ada buktinya, Lis? Kalo ga ada, ga boleh ngomong sembarangan. Papa liat Rani memang pintar. Kalo ga salah kemaren waktu ada acara di sekolah, dia yang pidato bahasa Inggris, kan?’ Arman berusaha menasehati anak semata wayangnya.

Alisa diam saja sambil mencubiti tepian roti tawarnya, ‘Pokoknya kesel sama Rani…mentang-mentang cantik…Bayu ikut-ikut naksir dia…’

‘Eh…anak Papa udah mulai main naksir-naksiran ya?’ Arman terkekeh, ‘itu namanya cemburu, nak…ga baik nuduh orang begitu karena cemburu…’ Arman kembali menasehati.

‘Iya…tuh dengerin Papa. Masih kecil ini kok sudah naksir-naksiran…anak SD itu belajar aja yang bener’ Elda menambahkan, ikut geli pada Alisa.

‘Lho…Mami kan juga cemburu…’

‘Lho, kok bisa…? Mami kan ga naksir Bayu, nak?’

‘Bukan sama Bayu, Mi…tapi sama tante-tante di depan’ ujar Alisa.

Elda segera meninggikan suaranya, ‘Alisa…yang sopan kalo ngomong sama orang tua…’

Alisa cuek saja, ‘Habis Mami selalu jelek-jelekin tante Intan, tante Dian, sama tante Sari…trus Mami suka bilang kalo tante-tante itu ga pinter masak, ga pinter sekolahnya, sama jelek…kayak tukang sihir…padahal kan enggak…’ ujar Alisa. ‘Iya, kan Pa?’ Alisa meminta persetujuan Arman.

Arman hanya mengerling pada Elda yang hanya tertunduk sambil pura-pura sibuk mengolesi selai strawberry di atas selai cokelatnya.

‘Ah…hmm…udah nggak usah ngomongin tante-tante itu, Lis’ Arman, papa Alisa, akhirnya berkata.

Alisa juga diam saja, menggigiti roti tawarnya yang pinggirannya sudah dicubitinya. Semua pinggiran itu sudah tergeletak tak rapi di atas piringnya. Alisa kadang benci jika keadaan begini, ketika maminya berhenti bicara karena omongannya…karena itu berarti, meski Alisa tahu bahwa maminya pun setuju ia benar, tapi tetap saja ia yang salah. ‘Ah…susahnya jadi anak…’ pikir Alisa dalam hati di tengah kesunyian mendadak di ruang makan pagi itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s