No Regret.

Saya tahu menurut kaidah tata bahasa yang benar titik (.) tidak boleh digunakan pada judul. Tapi saya punya alasan untuk judul ini. No Regret dalam bahasa Indonesia artinya tidak ada penyesalan, kalau mau dibuat lebih puitis mungkin harus saya terjemahkan jadi ‘Tanpa Sesal’. Entah kenapa, saya merasa ‘Tanpa Sesal’ jadi terdengar sangat kaku dan formal. Sama sekali bukan pesan yang ingin saya sampaikan. No Regret dalam hal ini adalah kesimpulan tentang apa yang baru saja saya pelajari. Dan titik (.) berarti bahwa ini adalah keputusan yang tidak mau saya tawar-tawar lagi.

Hidup itu apa? Hidup itu buat apa? Pertanyaan semacam ini kedengerannya mungkin terlalu filosofis. Tapi bohong juga rasanya kalau sekurangnya sekali dalam hidup kita tidak menanyakan pertanyaan macam ini. Buat saya pertanyaan ini sudah pernah muncul dua tahun yang lalu. Di titik balik hidup saya; waktu Bapak saya divonis kanker, tesis berantakan, dan hidup saya mendadak jadi loveless.

Dua tahun yang lalu saya tidak punya jawabannya. Tapi sekarang saya punya: No Regret.

Tidak Menyesal. Saya tidak menyesal dan tidak mau menyesal atas pilihan yang saya buat dalam hidup. Memilih jurusan tertentu. Melakukan pekerjaan tertentu. Berteman dengan orang-orang tertentu. Memilih orang-orang tertentu untuk jadi pasangan saya. Dan juga memilih apa yang lebih penting daripada yang lain.

Buat kebanyakan orang, perempuan seumuran saya tepatnya, hidup mungkin adalah sederet prestasi. Sekian digit gaji yang kita terima. Pekerjaan tertentu yang bisa kita display namanya di profile facebook. Liburan-liburan yang baru kita lakukan di luar negeri dan fotonya bisa kita tunjukkan kepada dunia lewat media sosial. Suami yang dibangga-banggakan, atau anak-anak yang bahkan senyum pertamanya bisa kita upload untuk menunjukkan pada orang lain betapa penuh dan fulfilling hidup kita.

Tanpa disadari salah satu hal yang menggerakkan kita adalah dorongan kematian. Thanatos, istilah Freud. Demi menyadari kita akan mati suatu saat, kita terus bekerja, berprestasi pada usia tertentu, memenuhi tuntutan sosial, dan bla bla bla lainnya. Tetapi sebenarnya, keindahan dari bayang-bayang kematian adalah bahwa ia mungkin satu-satunya yang bisa membuat kita menghilangkan apa yang tidak penting. Dan lucunya, yang penting adalah hal-hal sederhana yang sering kita tinggalkan, karena kita pikir hidup adalah memenuhi target hidup tertentu.

Sekarang saya tahu, hidup bisa memilih untuk meninggalkan saya sekarang juga. Tepat di detik saya menulis ini. Atau besok. Atau lusa. Atau sejam dua jam lagi. Saya tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang saya punya. Dan akhirnya setelah berbolak-balik tidur resah, saya putuskan bahwa setidaknya jika saya akan pergi tanpa pernah saya tahu, saya akan hidup tanpa menyesal. Saya akan memilih untuk bersama Bapak dan Ibu saya, bekerja dengan segala kepuasan dan bukan untuk pamer atau sekedar angka yang akan saya habiskan di akhir bulan, dan bahagia. Bahagia dengan cara yang baik dan mungkin sederhana.

Jadi, hari ini saya memilih untuk tidak menyesal.

PS. Ditulis di RS Darmo. Menemani Bapak. Love you, Yah :)

Liburan terakhir bersama Bapak di Bali, menikmati kopi luwak.

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 2,300 times in 2011. If it were a cable car, it would take about 38 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Cerita Di Balik Cerita

Tulisan kali ini saya buat untuk sedikit jujur tentang tulisan saya sebelumnya. Hehe. Ketika saya menulis tentang arsitektur gedung PTPN XI di Surabaya, sebenarnya salah satu alasan besar saya  untuk menulisnya adalah karena gedung tersebut adalah gedung kantor bapak saya. Bapak sudah pensiun sih, tapi satu hal yang masih membuat saya senang setiap kali Bapak mengajak saya ke gedung tersebut adalah karena saya sudah lama terpesona dengan cantiknya gedung itu, bahkan sejak kecil. Begitu juga dengan dua orang saudara perempuan saya.

Bagi kami, sejak masih kecil, gedung kantor Bapak adalah museum cantik. Dulu kami pernah sengaja ikut menemani Bapak seharian di kantor hanya untuk melihat-lihat. Menengadahkan kepala melihat ukiran dan pahatan cantik di lantai dua. Lalu naik turun tangga hanya untuk mengelus-elus barister logam keemasannya. Untung jaman itu telepon genggam berkamera belum tren, jadi setidak-tidaknya, Bapak tidak usah repot-repot memfoto kami di setiap sudut kantornya. Haha. Tapi yang jelas, saya masih ingat betapa kami bertiga segera memohon-mohon pada Bapak untuk segera pulang sebelum Maghrib…karena takut bertemu hantu Belanda. Huahahahaha.

Nah, untuk meyakinkan siapa saja yang membaca tulisan saya sebelumnya, sekarang saya sertakan beberapa foto gedung cantik kami ini. Semoga anda semua akhirnya mengerti mengapa kami sangat menyukainya :)

Cerita di Balik Arsitektur Indies ala PTPN XI

Masuk ke dalam gedungnya, saya merasa seolah menjadi semut kecil di hadapan pilar-pilar khas Yunani yang mengawal pintu besar berkaca. Sekilas saya menoleh ke arah pintu raksasa tersebut dari atas anak tangga terakhir yang saya naiki sebelum saya benar-benar berada di lobi. Saya tiba-tiba menyadari bahwa pilar di luar, pintu, dan lampu kecil yang menggantung di foyer ternyata merupakan tiga buah elemen yang diatur sedemikian rupa hingga berada pada sebuah jalur simetris yang sempurna. Pikir saya, ‘sempurna…ini dia Indies di Surabaya modern’.

Hari itu saya berkesempatan mengunjungi beberapa gedung cagar budaya di Surabaya. Lokasinya di wilayah Surabaya Utara yang notabene merupakan wilayah Surabaya lama. Jika ada waktu, berkendara ke arah utara kota Surabaya anda akan temui cantiknya arsitektur kolonial di wilayah kota tua kota ini. Meski terkadang banyak diantara gedung-gedung cantik tersebut yang sekarang terbengkalai dan tidak terurus, namun tidak demikian faktanya untuk gedung cantik yang saya kunjungi hari itu, gedung PTPN XI.

Bagi orang awam seperti saya, hal menarik yang saya kagumi dari gedung yang hampir berusia 100 tahun ini adalah warnanya yang kemerahan, pilarnya yang besar dan kokoh, serta detail-detail kecil yang masih terawat hingga sekarang, seperti barister logam keemasan, relief petani gula, dan juga kursi dan meja jati yang masih berfungsi menerima tamu di lobi. Jika diperhatikan dengan baik, anda juga akan sadari bahwa meja dan kayu jati tersebut juga telah berusia sama tuanya dengan gedung tersebut. Lambang kota Amsterdam dan NV. HVA diukir dengan cantik di sandarannya.

Ya, sulit rasanya tidak sekilas saja berpikir bahwa saya tidak sedang berada di Surabaya ketika berada di dalamnya. Bahkan, mungkin saya sedang berada di waktu yang lain, di jaman kolonial. Hanya saja, saya harus mengalami reality check alias sadar dimana saya berada setiap kali melihat pegawai PTPN XI lalu lalang. Bagaimanapun juga gedung berusia hampir seratus tahun ini masih beroperasi sebagai kantor direksi PTPN XI, meski sesekali menerima tamu dan rombongan seperti saya, yang hanya sekedar lewat untuk mengagumi bagian kecil sejarah yang terukir lewat keindahan arsitekturnya.

Sedikit bercerita, gedung PTPN XI ini dulunya dioperasikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai gedung konglomerasi industri gula, NV. Handels Vereeniging Amsterdam (NV. HVA). Pada sekitar tahun 1930an di bawah pemerintah kolonial, konon Hindia Belanda adalah negara pengekspor gula terbesar kedua setelah Kuba. Gedung ini adalah saksinya. Dibangun oleh arsitek dan insinyur Ed Cuypers dan Hulswit Fermont, gedung ini resmi beroperasi pada tahun 1924. Tetapi, ia telah mulai dibangun sejak 1911 dan berdiri secara utuh sejak tahun 1918.

Wisata Kota Tua: Politik Memori atau Kecintaan yang Tumbuh?

Wisata kota tua sebenarnya belum menjadi jenis wisata yang populer di Indonesia. Sepanjang pengetahuan saya, wisata budaya di Indonesia lebih condong mempromosikan bentuk wisata budaya adiluhung ‘nusantara’. Misalnya saja bentuk wisata budaya di Jogja atau Bali yang masing-masing mempromosikan jenis kebudayaan adiluhung masing-masing. Tetapi, sayangnya, wisata kota tua, yang berarti merujuk pada jaman kolonial belum menjadi sebuah alternatif yang menarik. Padahal, banyak kota di Indonesia yang sebenarnya cukup potensial karena banyaknya peninggalan arsitektur pada jaman kolonial yang merupakan bukti pernah hadirnya kebudayaan Indies di Indonesia. Indies yang dimaksud dalam hal ini adalah bentuk kebudayaan yang memadukan unsur ‘Barat’ atau asing seperti Arab dan Timur Jauh ke dalam unsur budaya ‘nusantara’. Misalnya saja, tidak lain tidak bukan, adalah percampuran arsitektur ala kolonial Belanda dengan unsur arsitektur tropis Jawa.

Kunjungan saya hari itu ke gedung PTPN XI bisa terjadi berkat semakin besarnya perhatian dari pemerhati sejarah dan penggagas wisata kota tua Surabaya seperti House of Sampoerna, yang juga mengelola museum rokok Sampoerna, serta keuletan pihak direksi PTPN XI dalam mengelola gedung tersebut dan mengukuhkannya sebagai cagar budaya. Menarik, menurut saya, mengamati mulai tumbuhnya minat masyarakat terhadap wisata kota tua semacam ini.

Sekedar sok tahu, saya jadi berpikir, jangan-jangan ada kaitan yang kuat antara tumbuhnya minat terhadap wisata kota tua dengan politik memori. Dulu di bangku kuliah saya pernah menyempatkan diri menyimak ketika dosen saya menerangkan sekilas tentang politik memori. Politik memori adalah sebuah pemikiran yang pada dasarnya menyatakan bahwa terjadi sebuah politik dimana masa lalu tertentu berusaha ditonjolkan, sedangkan masa lalu yang lain berusaha ditutup-tutupi untuk kepentingan rezim pemerintah yang berkuasa. Katakan saja ketika sebuah pemerintahan merasa harus memberantas ideologi tertentu, monumen-monumen yang anti ideologi tersebut justru akan lebih banyak dibangun, sebagai pengingat dan juga upaya menulis ulang sejarah versi pemerintah yang berkuasa.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan ketika  Indonesia berusaha menjual bentuk wisata adiluhung ‘nusantara’, bisa jadi kan bahwa kita (mungkin tidak hanya pemerintah atau rezim tertentu) berusaha melupakan bahwa kita pernah mengalami sejarah pahit kolonialisme. Nah sebaliknya, mulai meningkatnya minat terhadap satu fase sejarah ini bisa jadi juga berarti bahwa kita telah berdamai dengan kenyataan bahwa kita memang pernah dijajah.

Tetapi, yah, ini kan hanya dugaan saya saja… Barangkali, saya menariknya terlalu jauh… barangkali nih, semakin diapresiasinya wisata kota tua adalah karena bangkitnya kecintaan dan kesadaran masyarakat terhadap arsitektur kolonial yang cantik dan bentu budaya yang tidak selalu adiluhung, tetapi sama menariknya.  Melek pendidikan dan apresiasi sejarah tentunya juga bagian dari kebangkitan kecintaan ini.

Merawat “Barang Antik”

Sekali lagi saya harus mengacungi jempol pada pihak PTPN XI yang dengan susah payah merawat gedung peninggalan kolonial tersebut hingga layak disebut sebagai sebuah cagar budaya. Tidak mudah, menurut saya, menjaga peninggalan sejarah yang menarik seperti gedung di jalan Merak Surabaya itu seolah tetap seperti bagaimana ia tampak seratus tahun yang lalu.

Saya tidak tahu, sih, bagaimana ia tampak seabad yang lalu, tapi saya bayangkan tidak terlalu jauh dari apa yang saya lihat sekarang. Langit-langit yang tinggi khas gaya arsitektur kolonial di daerah tropis dan juga jamnya yang sangat ‘Eropa’ di depan gedung. Begitu juga dengan pintu-pintu kayunya yang tinggi dan kokoh. Menarik sekali.

Bagi saya, sebenarnya apa yang dibuktikan dengan melihat gedung ini adalah bahwa cara terbaik untuk merawat sebuah cagar budaya adalah dengan masih memfungsikannya, seperti halnya dengan yang dilakukan PTPN XI ini, …atau juga oleh pemerintah kota Surabaya dengan merenovasi sebuah gedung lama dan mengubahnya menjadi gedung Badan Penanaman Modal. Keduanya menjadi ‘museum’ yang paling nyata dan menarik. Sebuah bukti penting bahwa pernah ada fase tertentu yang tertulis di sejarah Indonesia.

Bukankah museum terbaik adalah gedung cantik yang tidak dibiarkan hanya menjadi ‘museum’?

My Yoda and Our Pep-Talk

Star Wars – The Exhibition

My last meaningful exchange I made was with my great uncle, couple of months before he past away. A little pep-talk before I went to campus. We had our usual breakfast on the dining table. I was spooning whatever I had on my plate to my mouth, when all of sudden with his shaky voice he said smilingly, ‘Happiness is a state of mind’.

Of course, I didn’t tell him I was sad, but maybe it appeared, somehow. I didn’t say anthing. I just smiled. Then he said, continuing his sentence—as if he really knew how bad I felt that day–, ‘Happiness doesn’t fall into your lap, pursue it and you will be happy’.

I chewed whatever I had in my mouth. Smiled again, thinking deep down, ‘Gosh, Great Uncle…you are my Yoda’.

Powered by Plinky

Tukang Sihir

Dalam panjang waktu 35 tahun hidupnya, Elda Rahmi, atau biasa dikenal oleh tetangga sebagai bu Arman, sama sekali tidak pernah percaya dongeng tentang kuntilanak atau genderuwo. Pernah mungkin, dulu waktu ia masih kecil. Tapi bukankah semua anak kecil selalu percaya hal-hal mistis? Namun, sejak ia sudah remaja ia tahu itu semua hanya dongeng isapan jempol yang sekali dua kali saja ia percaya ketika ia harus datang melayat atau pergi ke pemakaman. ‘Lho, bukankah tidak ada juga manusia yang mau ditempeli sawan-sawan kuburan?’, pikirnya. Tetapi, mau tidak mau sekarang ia termakan juga oleh cerita ibu-ibu tetangga. Ternyata memang tukang sihir itu ada. Dan jumlahnya ada 3. Dan mereka tinggal tepat di muka rumahnya. Di rumah kecil tipe 36 dimana sebuah mobil sedan tua terparkir di bawah naungan atap garasi yang agak menjorok ke muka. Hanya saja, Elda tahu, tukang sihir jaman sekarang telah bertransformasi. Mereka bukan lagi tukang sihir seperti dalam dongeng Putri Salju. Sekarang mereka adalah perempuan-perempuan tak tahu diri yang tinggal di rumah depan itu.

Tiga tukang sihir itu memang tidak lain adalah tetangganya. Seorang diantara mereka bernama Dian. Mungkin berusia sekitar 30an awal seperti dirinya, atau setidaknya akhir 20an. Kulitnya putih dan tinggi semampai. Badannya bagus seperti model. Elda menyadari itu ketika beberapa anak ABG laki-laki tiba-tiba suka membantunya membawa belanjaan berat dari supermarket di depan kompleks. Sedangkan untuknya? Puah, biar dibayarpun anak-anak itu tak mau. Tukang sihir kedua bernama Intan. Sedikit gemuk badannya dan agak pendek dari kebanyakan orang. Tapi Elda juga sadar, tukang sihir kedua ini cukup menarik bagi laki-laki. Ia suka sekali memasak dan mengantarkan kue ke rumahnya…yang meski enak, sedikit enggan ia makan. Elda yakin, Intan sedang bermain mata dengan suaminya, mas Arman. Mas Arman suka sekali menyindir-nyindir Elda dan membanding-bandingkan makanannya dengan makanan buatan Intan sejak Intan sering mengantarkan makanan. Kesal Elda dibuatnya. Lalu yang terakhir adalah Sari, si tukang sihir termuda. Usianya mungkin masih pertengahan 20an, tapi wajahnya seperti mahasiswi semester awal. Meski Sari tidak pernah menggoda suaminya, namun Elda sering kesal karena Sari sering kali mondar-mandir di depan rumah dengan memakai celana pendek. ‘Huh, mentang-mentang kakinya bagus’ sungut Elda setiap kali ia melihat Sari lewat. Ketiga tukang sihir itu katanya bukan kakak beradik, tetapi mereka berteman saja dan memutuskan tinggal serumah. Rumah itu kabarnya milik Dian, tukang sihir pertama, yang rupanya paling sukses diantara ketiganya. Katanya Dian bekerja sebagai GM sebuah hotel bintang 3 di pusat kota, sedangkan Intan mengelola sebuah toko roti dan kue yang lumayan terkenal. Tapi tak mau-mau lagi Elda datangi toko itu seumur hidupnya, tidak meski Alisa, anak perempuannya yang berumur 8 tahun, merengek-rengek minta dibelikan. Sedangkan Sari, entah dimana Sari itu bekerja, toh Elda juga tak mau tahu.

 

 

Pagi itu, seperti biasa, Elda mengumpulkan cerita tentang tukang-tukang sihir itu dari ibu-ibu tetangga yang sama-sama asyik memilih sayur di keranjang dagangan Samsul, si tukang sayur keliling.

‘Bu Arman…sampun pirso belum? Tadi malam mbak-mbak itu pulangnya pagi lho…’ ujar bu Wahyu yang sudah agak sepuh. ‘Saya sama suami sendiri yang lihat…’

‘O iya to bu? Jam berapa pulangnya?’ tanya Elda langsung menimpali.

‘Wah pagi sekali bu…barangkali jam 2, lha wong saya dan suami sedang siap-siap mau tahajud’ ujar bu Wahyu.

‘Eh…iya lho bu…’ bu Yakob menambahi, ‘saya juga denger…dan ini bukan pertama kalinya…mungkin setiap minggu begitu kelakuannya’.

‘Eh eh bu….sssttt’ bu Adi berbisik, ‘Ini saya denger dari suami saya lho bu…kan suami saya sekantor dengan mbak Sari itu,…katanya mbak Sari itu selingkuhannya bos, makanya dia itu diusir sama orang tuanya dan tinggal disitu’ ujarnya, ‘mungkin biar pacarannya aman, ya bu?’ bu Adi menambahkan sambil sedikit terkekeh.

‘Ah masa bu? Yang bener?’ Elda segera bertanya untuk memancing, ‘sepertinya saya lihat mbak Sari itu orangnya baik-baik…’

‘Lho itu kan kata suami saya, bu. Habis, kata suami saya, masa masih anak baru jabatannya cepat naik? Kalo ga karena ada apa-apa dengan bos kan ga mungkin…ya to?’ jawab bu Adi. ‘Suami saya saja sudah lama bekerja, eh…jabatannya masih segitu-gitu aja…’

‘Wah ga nyangka ya bu…?’ bu Wahyu langsung berkomentar sambil menyomot seikat kangkung dari keranjang Samsul.

‘Wahhh….ini ga bisa dibiarkan, bu’ ujar bu Yakob lagi, ‘Mau jadi apa kompleks kita nanti?…apa sebaiknya kita ngomong sama pak RT?’

Bu Adi segera menimpali, ‘Mungkin begitu ya, bu…dan bu, saya denger ga cuma mbak Sari itu yang bermasalah…mbak Intan dan mbak Dian itu…denger-denger…lesbi, lho bu…. Makanya anak saya ga saya bolehin bantu-bantu bikin kue disana minggu lalu….’

Astaghfirlauhaladzim…’ bu Wahyu terkejut. ‘Waduh…kok ono to sing koyo ngono? Duh Gusti…’ ujarnya sambil mengelus dada.

‘Yah…begitu yang saya tahu, bu…’ ujar bu Adi.

 

 

Malam itu, dengan semangat 45 Elda mengambilkan sepotong brownies untuk suaminya ketika mereka sudah selesai makan malam. ‘Mas…ini brownies dari mbak Intan…’ ujarnya menyodorkan.

‘Wahhh…ada brownies…wah pasti enak ini bikinan mbak Intan’ mas Arman, suaminya, berkata sambil menerima sepiring brownies yang disodorkan padanya.

‘Eh eh mas…tau ga…katanya bu Adi…mbak Intan itu lesbian lho…sama mbak Dian. Makanya mereka ga nikah-nikah…padahal sudah berapa umurnya, kan?’

‘Ah masa sih?…Kamu ini nggosip aja…sama bu Adi lagi. Dia kan tukang gosip’

‘Lho…bu Adi taunya dari sumber terpercaya lho, mas…Mas ini, dikasih tau ngeyel’

‘Ya sudah, mau lesbi mau ga lesbi, trus kenapa?’ ujar suaminya sambil memotong brownies di hadapannya dengan garpu.

‘Itu kan ga bener, to mas? Melenceng dari akidah agama…’ jawab Elda, ‘ibu-ibu mau melaporkan ke pak RT’.

Arman, suami Elda, segera meletakkan garpunya ke piring. ‘Ngapain to? Kayak gitu aja kok dilaporkan ke pak RT? Ah, ada-ada aja. Yang diurusi ya urusan sendiri aja, Ma…kok ikut campur urusan orang?’

‘Ah…mas naksir kan sama Intan itu…makanya belain terus’ Elda bersungut-sungut.

‘Lho, kok jadi gitu?’ suaminya mengernyit.

‘Ah…wis…sudah…males aku cerita ke mas Arman’ Elda segera berlalu dari hadapan Arman.

 

 

‘Mami…aku sebel deh sama Rani itu…dia itu penjilat’ ujar Alisa sambil mengoles selai cokelat di atas rotinya ketika sarapan keesokan harinya.

‘Kenapa memangnya, sayang?’ tanya Elda pada Alisa.

‘Mentang-mentang dia cantik…dia selalu ditunjuk sama bu Ani buat ikut lomba…padahal dia nggak pinter…dia penjilat’

‘Masa sih Rani ga pinter, bukannya kemaren dia rangking 1?’ Arman ikut berkomentar.

‘Itu kan karena dia nyontek…’ ujar Alisa lagi.

‘Memang kamu ada buktinya, Lis? Kalo ga ada, ga boleh ngomong sembarangan. Papa liat Rani memang pintar. Kalo ga salah kemaren waktu ada acara di sekolah, dia yang pidato bahasa Inggris, kan?’ Arman berusaha menasehati anak semata wayangnya.

Alisa diam saja sambil mencubiti tepian roti tawarnya, ‘Pokoknya kesel sama Rani…mentang-mentang cantik…Bayu ikut-ikut naksir dia…’

‘Eh…anak Papa udah mulai main naksir-naksiran ya?’ Arman terkekeh, ‘itu namanya cemburu, nak…ga baik nuduh orang begitu karena cemburu…’ Arman kembali menasehati.

‘Iya…tuh dengerin Papa. Masih kecil ini kok sudah naksir-naksiran…anak SD itu belajar aja yang bener’ Elda menambahkan, ikut geli pada Alisa.

‘Lho…Mami kan juga cemburu…’

‘Lho, kok bisa…? Mami kan ga naksir Bayu, nak?’

‘Bukan sama Bayu, Mi…tapi sama tante-tante di depan’ ujar Alisa.

Elda segera meninggikan suaranya, ‘Alisa…yang sopan kalo ngomong sama orang tua…’

Alisa cuek saja, ‘Habis Mami selalu jelek-jelekin tante Intan, tante Dian, sama tante Sari…trus Mami suka bilang kalo tante-tante itu ga pinter masak, ga pinter sekolahnya, sama jelek…kayak tukang sihir…padahal kan enggak…’ ujar Alisa. ‘Iya, kan Pa?’ Alisa meminta persetujuan Arman.

Arman hanya mengerling pada Elda yang hanya tertunduk sambil pura-pura sibuk mengolesi selai strawberry di atas selai cokelatnya.

‘Ah…hmm…udah nggak usah ngomongin tante-tante itu, Lis’ Arman, papa Alisa, akhirnya berkata.

Alisa juga diam saja, menggigiti roti tawarnya yang pinggirannya sudah dicubitinya. Semua pinggiran itu sudah tergeletak tak rapi di atas piringnya. Alisa kadang benci jika keadaan begini, ketika maminya berhenti bicara karena omongannya…karena itu berarti, meski Alisa tahu bahwa maminya pun setuju ia benar, tapi tetap saja ia yang salah. ‘Ah…susahnya jadi anak…’ pikir Alisa dalam hati di tengah kesunyian mendadak di ruang makan pagi itu.

Si Gadis Konser Superhero

“Hmmm….apa apa…” aku tergagap bangun secara mendadak dari tidurku yang pulas ketika mendapati kepalaku ditimpuki kerikil kecil.

Wajahnya sudah menyembul di balik kaca nako kamarku. Gorden yang sudah kututup tadi malam digeser ke samping olehnya. Rambutnya yang spikey dan pendek sebahu menempel di balik kaca nako yang seperempat terbuka. Nampaknya dibuka olehnya.

“Ayo keluar…” ia berujar. Wajahnya manyun. Sepertinya ia habis melewatkan malam yang panjang.

Aku kembali menjatuhkan kepala ke bantalku yang empuk dan gembul, Charlize Theron-ku. Aku bersikeras menamai bantalku Charlize Theron setelah aku aku tahu ia menamai bantalnya ‘Buntelan’, sekedar untuk menunjukkan bahwa bantal pantas mendapat penghargaan lebih. Nama yang baik, misalnya.

Ia kembali melemparkan kerikil kecil ke dalam, selalu tepat mengenai kepalaku. Aku benci jika ia mulai begitu…tapi toh ia rutin melakukannya sejak ia menemukan metode ini waktu kami sudah kuliah. Dan toh, aku selalu menyerah.

Aku mengusap-usap kepalaku pada Charlize-ku terakhir kalinya. Lalu dengan satu sentakan aku berbalik dan menendang selimutku. “Iya…ini bangun…” kataku akhirnya. Ia menang.

Aku keluar lewat ruang tamu dan ia sudah menungguku di teras depan. Ia tahu jalan terbaik untuk ke kamarku adalah melalui kaca nako di garasi. Ia sudah tahu itu sejak kami masih kecil. Bahkan, satu kali dulu dulu sekali ia pernah menakut-nakutiku dengan berdandan seperti kuntilanak dan bersandar di dekat kaca nako kamarku. Aku benci sekali jika dia mulai begitu. Tapi…ia selalu menang. She gets my full attention.

“Cari makan yuk…” ia berujar, masih manyun.

“Emang…di rumah nggak ada…”

“Pake motormu…buruan” ia memotong.

Aku mendengus, tapi menuruti maunya. Mengambil kunci motor di dalam lalu segera mengeluarkannya dari garasi.

“Mau makan dimana?” tanyaku ketika ia sudah aman dibonceng di belakang.

Kampoeng Steak

“Pagi-pagi gini….?”

“Udah buka…buruan…” ia berujar tak sabar.

Aku menahan sedikit kesal, “Iya …iya” ujarku.

Lalu kami mendapati kami berada di salah satu meja di dekat jendela.

“Kenapa…?” tanyaku akhirnya membuka pembicaraan setelah keheningan beberapa saat.

Ia mulai melihat jauh, melihat sesuatu di balik jendela, meski aku tahu tak banyak yang bisa dilihatnya. Tembok…dan jalan, mungkin, jika ia sedang beruntung.

“Aku sebel…” ujarnya akhirnya.

“Sebel kenapa…?” ujarku sambil menganggukkan kepala pada mas pelayan yang mengantarkan jus tomat apelku dan milkshake coklatnya.

“Ibuku…”

“Ahhh…” aku berujar. “Klasik” pikirku dalam hati. Ibunya selalu bertengkar dengannya tentang apapun.

“Kenapa lagi?”

“Aku diomelin sepagian…”

“Kok bisa?”

“Aku pulang pagi dari nonton konser tadi malem…” ujarnya dengan tenang.

Jus apel tomat yang aku sedot hampir keluar kembali ke mulut. “Apa?”

Ia menatapku dengan sinis. “Kenapa?…kamu juga keberatan?”

Aku menelan kembali jusku, menunduk dengan enggan. “Ya enggak sih….tapi biasanya kamu kan pulangnya malem…ga pernah pagi…kok sekarang jadi pagi?”

“Nginep di rumah temen” jawabnya pendek. “Aku kan udah besar…masa harus pulang jam 9 terus?”

Aku memukul-mukul dadaku sedikit, menghilangkan rasa tersedak yang barusan kurasakan akibat menelan dan mengeluarkan jus apel tomat dengan kecepatan tinggi. “Tapi kamu kan perempuan Ka…, wajar kalo ibumu panik”

“Tapi aku kan udah ngomong….I’m not a kid..I work now” ia berkata lebih bersungut-sungut.

Aku diam saja. Kali ini kembali mengangguk pada si mas tadi yang sekarang mengantarkan steak kami.

Gadis yang bernama Lenka ini lebih manyun lagi melihat steak di hadapannya. “Kok pake buncis?…aku suka pake petit pois…” ujarnya sambil mengernyitkan dahinya pada si mas pelayan yang malang.

Aku segera menengahi, seperti biasa, “Gapapa mas. Terima kasih”

Mas pelayan yang hampir bingung segera meninggalkan kami.

“Kacang polong, Lenka…jangan bilang petit pois…mana dia tau…”

Lenka mengernyit lebih dalam, kali ini padaku. “Kan biasanya pake petit pois, bukan buncis…”Tetap bersikeras memakai kata ‘petit pois’ daripada ‘kacang polong’. Lenka pernah sekali ikut kuliah bahasa Perancis di kampusnya, tapi satu-satunya bahasa Perancis yang menempel di kepalanya hanya satu kata itu, ‘petit pois’. Sering kali aku curiga sebenarnya…karena Lenka bukan pembelajar bahasa yang baik. Mungkin dulu ia pernah dihukum menulis ‘petit pois’ seribu kali sehingga kata itu menempel dengan baik di otaknya yang pelupa.

“Enggak Lenka, kalo mau pake kacang polong kita perginya ke Waroeng Steak

“Emangnya beda?”

“Ya beda lah, Ka…” aku berusaha sabar mengingat Lenka tidak pernah hapal jalan atau nama tempat atau juga…daftar menu. Sejak SD ia selalu mengandalkanku. Dan entah kenapa…aku selalu mau. Mungkin karena Lenka adalah satu-satunya teman perempuanku, yang paling bisa diajak bermain basket tiap Sabtu malam dan sekali-kali ikut meronda jika ibunya juga sedang kalah berargumen dengannya.

Lenka segera memotong steaknya. Masih kesal atas kejadian beruntun yang baginya mengesalkan.

Kami kembali diam. Lenka memotong, menusuk, menggigit, mengoyak, dan mengunyah steaknya dengan kesal, benar-benar mengacuhkanku, si emotional punchbag favoritnya. Steaknya hampir separuh habis. Potato wedgesnya sudah habis. Potato wedges? Yah…untuk ukuran tempat makan murah meriah seperti ini potato wedges hanyalah kentang goreng yang dipotong kotak-kotak besar, bahkan tidak digoreng deep-fried, sehingga potato wedgesnya basah oleh minyak. Tapi aku tahu bahwa potato wedges adalah favorit Lenka.

Dengan segera aku menyodorkan potato wedgesku ke hotplate Lenka. Lenka terdiam sesaat, memandangku yang nyengir, dengan pandangan separuh kesal separuh berterima kasih. Ia kembali mengunyah, lalu terdiam. “Jusnya masih mau diminum nggak?”

“Enggak Ka…ambil aja…” ujarku, kembali nyengir dan menyodorkan gelasku. Lenka mengambil jusku.

“Emang kenapa sih, Ka, suka banget kamu nonton konser?” tanyaku iseng.

Lenka kembali berhenti. Memandang keluar. “Soalnya…kalo lagi nonton konser, aku lupa semuanya…kalo lagi himpit-himpitan ama orang, kadang aku ngerasa dipeluk. Dan kalo ikutan nyanyi…aku lupa tentang aku…aku ngerasa jadi bagian dari banyak orang” ia berkata lirih. “Dan musiknya bagus…” ia menambahkan diplomatis.

Aku ikut berhenti mengunyah. “Segitu pentingnya ya, Ka?” kilahku dalam hati sambil memandangi rambut spikeynya yang berantakan.

“Mau tambah…kamu yang bayar” Lenka segera memotong lamunanku.

Aku tersenyum saja. Lenka temanku dari kecil. Orang paling aneh yang pernah aku temui. Paling susah dimengerti, tapi paling gampang membuat gemes. Dan sejak SD aku resmi menjadi sidekicknya. Dan sebagaimana seorang sidekick yang baik, sebagaimana aku tahu betapa pentingnya pergi ke konser baginya, aku juga tahu betapa pentingnya bagi Panda, si sidekick ini, melihat Lenka, si superhero, kenyang dan bahagia.

“Oke deh…” ujarku nyengir. “Ah, Lenka” batinku dalam hati, “you’re the only sour face superhero who can make my heart skips a beat”.

PS. Post kali ini terinspirasi dari Stalker no. 2 saya dan pembicaraan kami sewaktu saya dihukum dengan silent treatment setelah pulang pagi dari mengantri es krim yang sebenarnya bisa dibeli di Alfa Mart. Tapi kan…tapi kan…ada Ello, Andien, D’Cinnamon, ama Sandy Sondhoro… :P

Tuhan: Terorisme dan Negara Islam

Tuhan adalah sebuah pencarian tertua manusia. Karen Armstrong ketika menulis A History of God[1] pernah mengatakan dengan indah bahwa manusia pada dasarnya tidak hanya  jatuh dalam kategori Homo sapiens, tetapi juga merupakan Homo religiosus[2]. Berdasarkan penelusuran sejarah yang dilakukan oleh Armstrong, ia mendapati bahwa manusia, pada saat yang bersamaan ketika mulai menciptakan karya seni, juga menciptakan agama. Manusia-manusia prasejarah telah lama ditemukan memiliki agama dimana mereka mulai menyembah alam semesta dan Dewa-Dewa. Perubahan drastis kemudian terjadi ketika manusia mulai berubah dari menyembah banyak Tuhan menuju pemahaman bahwa Tuhan adalah tunggal, monotheisme.  Namun, apapun bentuknya, Tuhan dan agama adalah sebuah pencarian dan hasil kontemplasi manusia yang menurut Armstong telah berusia 4000 tahun, dan bahkan dalam bab ‘In the Beginning…’, ia mengatakan bahwa sejarah Tuhan dimulai 14000 tahun yang lalu di Timur Tengah.

Salah satu hal yang sangat menarik ketika membaca buku Armstrong tersebut adalah bahwa Tuhan, berdasarkan penelusuran sejarahnya, pada satu sisi adalah sebuah manifestasi manusia akan kebutuhannya. Maka, pada sisi tersebut, Armstrong tidak salah bila mengatakan bahwa manusia sebenarnya adalah agen kreatif dalam menciptakan Tuhan. Ketika kebudayaan tertentu pada saat tertentu terbentuk melalui sektor pertanian, maka Tuhan yang disembah adalah Tuhan dalam wujud Dewa Kesuburan, ketika sebuah kebudayaan terbelit permasalahan perbudakan, maka Tuhan yang dipercaya adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sedangkan ketika manusia merasa terusir, ketakutan, serta diperlakukan tidak adil, maka Tuhan yang muncul adalah ibarat Dewa Perang Yunani, Ares, yang memberi keadilan dengan cara represif bagi lawan mereka. Tuhan yang akan menghukum orang-orang yang telah mengusir dan menindas mereka. Maka, memahami ini, dapat dimengerti juga mengapa bertahun-tahun yang lalu Marx mengatakan bahwa agama adalah candu. Agama seolah merupakan konstruksi manusia saja atas kebutuhan dan ketakutannya.

 Memparalelkan temuan Armstrong ini kepada kehidupan sehari-hari kita saat ini, maka akan kita temukan bahwa permasalahan negara, seperti isu berdirinya negara Islam,  dan juga isu terorisme adalah salah satu bukti bahwa manusia, berulang kali, memanifestasikan ketakutan dan keinginannya terhadap sosok Tuhan yang diinginkan.

Tuhan: Dewa Keadilan dan Terorisme

Perang terorisme terbesar barangkali diawali pada permulaan abad ke 21 ini ketika Amerika Serikat mengobarkan perang terhadap Afghanistan,  jaringan ‘teroris’[3] Al-Qaida dan rezim Taliban. Hal ini menjadi reaksi Amerika Serikat setelah diruntuhkannya dua menara kembar WTC di New York yang dituduhkan dilakukan kepada jaringan tersebut.

Al-Qaida sendiri dengan gerakan militannya, bagi banyak penganut Islam, tidak luput pula dari tuduhan teroris. Bahkan dipercaya begitu rapinya organisasi ini hingga jaringannya telah mencapai negara-negara Asia Tenggara, Indonesia salah satunya. Noordin .M. Top yang berasal dari Malaysia dianggap sebagai salah satu bagian dari sepak terjang jaringan global ini.

Terlepas dari kebenaran akan tuduhan terorisme ataupun apakah jaringan teroris Indonesia merupakan bagian dari organisasi ini, cara-cara yang dipergunakan oleh jaringan teroris Indonesia ini sebenarnya merefleksikan Tuhan tertentu yang mereka percaya. Tuhan yang dimaksud dalam hal ini tidak serta merta merujuk pada Allah, Tuhan yang dipercaya oleh umat Islam, mengingat jaringan tersebut mengatasnamakan Allah dan Islam. Tuhan yang dimaksud adalah bentuk Tuhan yang dipilih; apakah Tuhan yang pengasih, Tuhan pemberi rejeki, Tuhan yang adil, atau Tuhan yang penuh dengan kemarahan, Tuhan sebagai Dewa Keadilan yang menghukum lawan dengan represif. Bagi kelompok ini nampaknya, menghilangkan nyawa orang lain untuk kepentingan yang lebih besar seperti membalas dendam kepada Amerika Serikat atau Australia, atau keinginan untuk membunuh kepala negara merupakan sebuah perjuangan mulia untuk menegakkan kemuliaan Tuhan di muka bumi. Tuhan yang mereka refleksikan adalah Tuhan yang memerintahkan mereka untuk memerangi orang atau kelompok lain yang berbeda pendapat dengan mereka. Namun tentunya pertanyaan terbesarnya adalah mengapa memberantas orang lain yang berbeda pendapat menjadi penting bagi mereka?

Telah banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai akar permasalahan terorisme. Sependapat dengan sebagian dari mereka, terorisme disebabkan atas perasaan diperlakukan tidak adil dan tidak didengar. Sama halnya dengan para leluhur manusia yang memilih untuk percaya akan kekuatan kemurkaan Tuhan, seperti pada masa Nabi Musa yang menyelamatkan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir, maka Tuhan inilah yang dipercaya sebagai penyelamat. Tuhan yang akan menghukum orang lain yang telah menindas mereka. Maka, sebenarnya Tuhan tidak ubahnya menjadi sosok Dewa Keadilan yang akan membawa keadilan bagi mereka dan mengakhiri penderitaan mereka.

Bruce Lawrence menyebutkan juga dalam Quran: a Biography[4] bahwa pada dasarnya kelompok ini sering berpikir bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membedakan yang hak dan yang bathil. Maka, perjuangan ‘jihad’ mereka adalah usaha mengembalikan manusia lain kepada ‘jalan yang benar’, meskipun dengan cara tersebut pembunuhan menjadi sebuah alat. Penegakan keadilan dan masalah ketidakpercayaan adalah sebuah isu yang mendasar dalam hal ini.

Negara Islam

Keinginan sebagian umat Islam Indonesia untuk mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Negara Islam adalah juga sebuah manifestasi ketidakpercayaan terhadap sistem pemerintahan yang sedang berlangsung saat ini. Dalam sudut pandang mereka, keadilan hanya akan dapat ditegakkan dengan kembali pada syariat-syariat Islam. Konsep keadilan lah dalam hal ini yang kembali menjadi nilai ujian.

Bagi golongan orang atau kelompok yang telah merasa dipinggirkan dan diperlakukan tidak adil, maka sebenarnya keinginan menegakkan hukum Islam dalam kehidupan bernegara sebenarnya lebih merupakan refleksi atas ketakutan dan keinginan untuk didengar daripada sebuah manifestasi keinginan ‘kembali pada jalan yang benar’. Maka, kembali lagi, Tuhan adalah menjadi sandaran ‘berlindungnya’ kelompok ini, yang nampaknya menjadi kelompok marjinal di bawah pemerintahan hukum negara Republik Indonesia.

Refleksi

Sebuah jalan keluar yang nampaknya merupakan salah satu jalan keluar mengatasi apa yang disebut sebagai terorisme adalah sebuah upaya merangkul kelompok ini. Harus diakui bahwa pemerintah Republik Indonesia saat ini cukup baik menjalankan metode penangkapan anggota jaringan teroris tanpa menggunakan UU semacam ISA (Internal Security Act) di Amerika Serikat. ISA, menurut saya, sebenarnya akan jauh lebih efektif menyebarkan ketakutan dan kebencian yang akan makin menambah bahan bakar jaringan tertentu dalam menyebarkan aksi teror.

The Truth Is Out There and In Here

 Dalam tulisan singkat ini, saya banyak memparalelkan ide yang saya baca dalam buku Armstrong kepada bagaimana manusia mempersepsi Tuhan. Dalam banyak kesempatan saya menuliskan bahwa manusia ‘menciptakan’ Tuhan. Hal ini tentu bukan sebuah arti literal yang saya maksudkan; Tuhan adalah tetap, sekurang-kurangnya bagi saya, sebuah kenyataan di luar sana (out there) dan di dalam sini (in here). Manusialah yang berkali-kali berusaha mempersepsi Tuhan sebagaimana kondisi dirinya. Persepsi, dengan sendirinya, adalah sebuah permasalahan terjemahan, sebuah translation.

Walter Benjamin, seorang proponen Mazhab Frankfurt, pernah menjelaskan mengenai permasalahan terjemahan yang saya sitir di atas. Translation sering dipergunakan oleh Homi .K. Bhaba ketika menjelaskan identitas hibriditas dalam permasalahan poskolonialisme[5]. Benjamin mengatakan bahwa ketika terjemahan dilakukan, maka suatu sifat original atau asli menjadi hilang. Barangkali dalam ide postrukturalisme, kita mengenal apa yang disebut dengan ‘slippage of meaning’. Semacam sebuah pergeseran makna. Maka, kita harus memahami bahwa upaya terjemahan tidak dengan sendirinya akan memilki nilai asli atau original, nilai auratik-nya telah menghilang.

Apabila pemahaman ini diaplikasikan, maka kita akan memahami bahwa bagaimana Tuhan dan agama dipersepsi sebenarnya bukanlah sebuah nilai asli atau original. Persepsi akan Tuhan dan agama menjadi sepenuhnya kerja manusia. Namun hal ini tidak dengan sendirinya berusaha mengatakan bahwa Tuhan tidak ada atau bahkan bahwa agama mengatakan hal yang tidak benar. Berdasarkan pengalaman saya, dan juga yang saya tahu merupakan pengalaman Karen Armstrong sendiri[6] (yang pernah menjadi biarawati Katholik), adalah kenyataan bahwa Tuhan tidak selalu dapat dibuktikan dengan logika. Namun, bagi kami berdua, Tuhan memang tidak harus dipahami secara logika, karena sebagaimana ajaran mistik[7], Tuhan muncul dalam diri manusia melalui hati. Hanya melalui hatilah Tuhan dapat dirasakan, sama sekali bukan sebuah pengalaman empiris. Hal-hal inilah yang saya yakini sebagai sebuah keyakinan paling mendasar dari setiap umat berTuhan; menemukan kedamaian melalui diri mereka sendiri menuju pada suatu Kebenaran, Tuhan.


[1]Armstrong, Karen. A History of God. 1994. Ballantine Books: USA.

[2] Makhluk yang relijius, selalu mencari keberadaan Tuhan.

[3] Saya menggunakan tanda kutip untuk menunjukkan bahwa teroris adalah pilihan kata yang dibuat oleh Amerika Serikat terhadap Al-Qaida. Sebutan tersebut hanya menunjukkan perspektif tertentu yang dipilih oleh Amerika Serikat.

[4]  Bab ‘Osama bin Laden’.

[5]Rutherford, Jonathan (ed). ‘Third Space’. Identity. 1990. Lawrence & Wishart: London.

[6] Baca pada bagian ‘Introduction’, A History of God.

[7] Secara singkat saya memberanikan diri untuk menjelaskan aliran mistik atau sufisme sebagai aliran yang berusaha menemukan Tuhan melalui hati, alih-alih logika. Tuhan ada di dalam manusia, karena Tuhan membentuk bagian terkecil dari manusia. ‘Manunggaling kawulo Gusti’, barangkali adalah frase yang dipergunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam hal ini. Lihat Lawrence, Bruce. Quran: a Biography. ‘Jalal ad-din Rumi’. 2007. Atlantic Monthly Press: New York.

Abang

Abang adalah salah satu orang yang paling dekat denganku. Bahkan, salah satu memori awal yang aku miliki adalah tentang abangku. Siang sore itu, aku tertidur di atas dipan di sebuah stasiun. Tidak bisa ingat dimana. Tapi di sebuah stasiun, dengan pengeras suara yang mengganggu dan bising lalu-lalang orang dan penjual yang hilir mudik di dekat dipanku. Leherku berkeringat dan rambutku basah oleh keringatku sendiri. Siang sore itu matahari bersinar terik, tidak terbendung oleh atap stasiun yang kuno dan reot. Abangku berdiri di hadapanku, berdiri menghalangi sinar matahari yang mengenai mataku langsung. Membiarkan efek sinar oranye yang kulihat ketika menutup mata berangsur-angsur menjadi hitam dan gelap yang familiar di mataku. Ia mengangkat sebuah majalah dengan kedua tangannya yang kecil, mengipas-ngipaskannya dengan semangat di atas kepalaku. Meski sesekali ia berhenti. Sering kali sebenarnya. Membetulkan pegangan majalah yang sering terjatuh dari tangannya yang kecil. Bagaimanapun ia masih 5 tahun. Dan aku 3. Dan aku merindukan ibuku yang jauh di kota kami, sedangkan kami terdampar bersama eyang. Tapi aku tahu ibuku tidak merindukanku, karena ibu yang meminta eyang membawa kami saat itu. Ibu sedang punya mainan baru, adik bayi kami, Alya. Dan abangku selalu yang menghiburku sepanjang perjalanan itu, ketika aku menjerit minta ibuku. Begini katanya, “cup…cup…dik, abang disini”. Dan aku percaya pada abang. Ada abang disitu.

Kenangan kedua yang kuingat tentang abang adalah beberapa tahun kemudian ketika kami bermain di tanah kosong di dekat rumah kami. Banyak tanaman liar dan rumput-rumputan yang tumbuh, juga kangkung di sisi lainnya. Abang mengajakku kesana sore itu. Aku senang sekali. Abang selalu bermain dengan teman-temannya, anak-anak tetangga yang sebaya, dan tidak mau bermain denganku. Karena aku masih kecil. Bagaimanapun anak besar pantang bermain dengan anak kecil. Tapi tidak kali itu. Abang mengajakku bermain kesana dengan beberapa orang temannya. Aku ingat seseorang menggendongku melewati selokan kecil yang menjadi batas masuk tanah kosong itu. Aku merasa sangat besar. Aku berhasil masuk ke perkumpulan rahasia abangku. Lalu kami bercerita seram disana. Aku ketakutan, tapi tak mau kutunjukkan. Aku tak mau abangku menang. Aku tak mau memberinya kepuasan dengan menunjukkan bahwa aku hanyalah bayi kecil yang masih takut dengan dongeng hantu. Lalu kami mendengar adzan Maghrib. Mereka semua segera berdiri dan beranjak. Setan selalu datang setiap Maghrib kata abang. Begitu kata guru ngaji kami, pak Nur, yang dikopi oleh abang setiap sore padaku. Aku menghentikan langkah abangku, “Gendong” kataku, minta diseberangkan melewati selokan.

“Kan kamu sudah besar, sudah nggak digendong lagi” demikian ujar abangku.

“Tapi selokannya lebar, bang”

“Dasar bayi” abangku mendesis.

Aku tertohok oleh kata-katanya. Aku melihat selokan kecil yang besar sekali itu untukku dan bertekad akan bisa melewatinya.  Tapi, tidak sore itu. Aku tidak berhasil melewatinya. Aku terjatuh ke dalam selokan hingga sebatas pinggang. Kakiku merasakan dasar selokan yang kotor dan penuh lumpur.

“Abang…” rengekku.

Abang menoleh dan akhirnya, mau tak mau, menggendongku keluar. Dan aku marah sekali. Hari itu aku memakai gaun Hello Kitty favoritku karena aku akan diajak masuk ke perkumpulan rahasianya, tapi aku justru jadi kotor dan bau. Belum lagi kedua sandalku hilang, ditelan lumpur di dasar selokan. Ditambah lagi membayangkan omelan ibu tentang anak kecil yang tidak pulang ke rumah sebelum Maghrib dan omelan baju kotor dan anak perempuan kecil yang tidak baik. Aku menepis tangan abang begitu aku keluar dari selokan, lalu segera berlari pulang. Hendak mengadukannya duluan kepada ibu sebelum aku yang dimarahi.

Dan abang memang dimarahi. Lalu abang menghilang setelah aku diseret masuk ke kamar mandi, dimandikan ulang sambil dimarahi dengan omelan yang tak ada habisnya dari ibuku. Omelan tentang baju kotor. Uang yang sedikit. Anak yang nakal. Tidak bisa jadi astronot dan apalagi yang tidak bisa kuingat.

Abang belum pulang ketika berita malam sudah diputar di TVRI. Ibu mulai mengomel lebih keras lagi. Kali ini hanya mengomeli abangku yang batang hidungnya tak tampak sejak Maghrib. Tentang anak yang tidak sholat dan anak yang bolos mengaji. Lalu neraka dan setan. Lalu genderuwo dan kuntilanak. Tapi kemudian abang pulang, badannya kotor dan bau. Bau selokan. Dan kakinya penuh lumpur. Tapi ia mengayun-ayunkan temuannya, sepasang sandalku yang hilang.

“Abang…” sorakku. Dan aku memaafkan abangku. Karena toh, ia selalu ada kan? Dan bukankah anak-anak sangat pandai memaafkan? Dan bukankah abang menepati janjinya lagi? Kan ia selalu ada untukku…dan sandalku.

Kenangan yang lainnya ada banyak, tapi kemudian satu lagi yang membekas. Kenangan dua bulan yang lalu. Aku melihat Dilla, tunangan abangku, memaksa masuk ke dalam kamar ganti abang. Hari itu adalah hari pernikahan mereka. Abang melanggar tradisi dan membiarkannya masuk. Abang tidak tahu bahwa aku berada di dalam kamar mandi kamarnya. Aku mendengar lirih suara sedu sedan Dilla. Dilla membatalkan pernikahan dengan abang. Tak sanggup menolak abang, dan lucunya justru keberanian itu muncul pada hari H. Aku dengar abang memohon, mengeluarkan suara tangis yang tidak pernah aku tahu ia punyai. Tapi Dilla tak bergeming. Sudah bulat. Lalu abang keluar dan mengatakan pada semuanya bahwa ia yang tidak ingin menikahi Dilla. Buat apa?, pikirku. Untuk melindungi perempuan brengsek itu? Dan aku menangiskan bulir-bulir air mata untuk abang. Abangku sayang. Dan karena aku tidak berani ada untuk abang.

Sekarang dua bulan kemudian, abang duduk di tepian sungai yang setengah jam yang lalu menghanyutkan satu-satunya gelang pemberian ayahku. Gelang jimatku. Kata ayah barangkali gelang itulah yang dulu membantu aku masuk perguruan tinggi negeri. Aku tahu ayah bohong. Tapi aku memilih untuk percaya bahwa gelang itu seolah punya kekuatan. Dan sekali lagi abang mengaduk-aduk tepian sungai dengan sebatang kayu panjang. Berusaha menemukan gelangku yang hilang. Peserta rafting yang lain sudah duduk di atas, menyeruput kelapa muda sambil bersenda gurau. Sedangkan kami?…duduk diam sambil menatap tepian sungai.

“Sudah bang…jangan dicari lagi” sungutku.

“Jangan…nanti pasti ketemu…” abang masih bersikukuh.

Kenapa juga aku mau diajak abang bermain arung jeram disini? pikirku. Tapi aku mau, mendadak aku teringat, karena aku tahu abang hanya ingin ditemani. Tanpa diomeli atau dinasehati atau diceramahi. Dan aku adalah adik yang pandai berbuat persis seperti yang ia mau.

“Biar saja bang…barang seperti itu gampang dicari…” ujarku masih bersungut.

“Jangan…” abang masih terus mengaduk-aduk perut tepian sungai.

Aku menendang kerikil kecil di tepi. “Sudah bang…” ujarku sambil merebut tongkat kayu dari tangan abang. “Jangan dicari dan jangan ditangisi, yang seperti itu biar saja pergi….Allah pasti kasih ganti”

“Termasuk juga Dilla itu….ga berguna…besok abang akan ketemu perempuan lain yang lebih baik…” ujarku.

Abang menatapku diam.

“Perempuan seperti dia itu ada selusin, sepuluh ribu tiga malah” kataku, “tapi hati abang cuma satu…ga ada lagi gantinya”

Abang masih melihatku terkesima. Kaget aku tahu rahasianya.

Aku merangkul pundak abangku dan berharap kami kembali ke tubuh kecil kami, meringkuk di bawah selimut di kamar abang seperti waktu kami sama-sama kena tifus. Lalu aku mengucapkan mantra ajaib itu, mantra yang hanya abang yang punya.

“Cup cup, kan ada adik disini…” ujarku.

Abang tersenyum, terkesima dengan keberanianku mengimprovisasi kata-kata ajaibnya. Lalu ia balas merangkulku. Abang tersenyum lebih lebar. Dalam diamnya aku tahu ia berbisik, barangkali berbisik, “ah sok tahu kamu adik kecilku”.

Kali ini aku ada bang. Untuk abang.

 

PS. Ditulis untuk seorang ‘abang’ yang selama 3 tahun terakhir selalu menangkap saya setiap saya jatuh. Abang yang selalu bilang setiap saya sedih, “Sat, aku ada pegangan ayat…”. Dan saya percaya bahwa malaikat pelindung itu pasti ada, mungkin dalam kasus saya, malaikat datang dalam bentuk abang. Terima kasih bang. Selamat ulang tahun. You are indeed my platonic love :)

 

#indonesiajujur Psyche Indonesia dan Kasus Mencontek Massal

Julia Suryakusuma pernah mengandaikan dalam salah satu esainya, ‘SOS! Psyche in Crisis!’, keadaan psyche masyarakat Indonesia dengan psyche seseorang. Hasilnya adalah bahwa ia mendapati beberapa karakter masyarakat Indonesia bisa dianalogikan dengan karakter seseorang. Menurutnya, bangsa Indonesia di samping memiliki karakter yang terkenal ramah bagi bangsa lain, juga memiliki karakter-karakter gelap seperti tidak dewasa (immature), penakut (fearful), tidak berdaya (powerless), irasional (irrational), dan memiliki kesulitan dalam mengatur diri (difficulty in managing ourselves). Pendapat Julia Suryakusuma ini tentu sangat bisa diperdebatkan sebenarnya, namun dalam beberapa kasus, argumen-argumen beliau memiliki banyak pembenaran. Salah satunya adalah dalam kasus mencontek massal yang diorganisir oleh sebuah Sekolah Dasar Negeri di Surabaya beberapa saat yang lalu.

Baru-baru ini, Surabaya dihebohkan dengan kasus mencontek massal yang pertama kali dilaporkan melalui sebuah radio komunitas terkenal di Surabaya. Kasus ini bermula dari laporan seorang ibu yang mendapati bahwa anaknya tertekan karena menjadi sumber contekan massal di sekolahnya. Sang anak merasa bahwa ia mengkhianati pendidikan ‘jujur’ yang selama ini telah diajarkan kepadanya. Menariknya lagi, kasus pencontekan ini tidak diawali oleh inisiatif murid, seperti yang biasa terjadi, namun sengaja diatur oleh pihak sekolah agar seluruh murid kelas VI lulus dengan  nilai yang baik. Kasus ini kemudian ditindaklanjuti oleh Walikota Surabaya hingga menjatuhkan sanksi bagi kepala sekolah dan beberapa orang guru dari sekolah tersebut. Namun anehnya, keluarga si murid justru dijauhi oleh tetangga yang kebanyakan juga merupakan wali-wali murid sekolah tersebut. Bahkan, mereka menghendaki keluarga tersebut untuk pergi dari wilayah mereka. Ketika diadakan mediasi di sekolah, wali murid yang lain menolak permintaan maaf keluarga pelapor, bahkan ketika pihak sekolah telah dinyatakan bersalah. Bagi mereka, mencontek adalah sebuah hal yang wajar. Wajar? Benarkah?

Ketika yang benar dan yang salah menjadi logika yang terbalik-balik, dalam kasus ini saya mendapati bahwa argumen Julia Suryakusuma sekali lagi mendapat pembuktian.

Tidak dewasa (immature). Hal pertama yang dikatakan Julia adalah bahwa bangsa Indonesia memiliki karakter tidak dewasa. Salah satu hal yang paling mendasar dalam ketidakdewasaan ini adalah bahwa bangsa Indonesia masih lebih menyukai hasil daripada proses. Sekolah bukanlah sebuah proses memperoleh ilmu, tetapi sekolah adalah tentang memperoleh nilai. Dalam skala yang lebih besar, bahkan, orang lebih tertarik untuk mengatakan gelar apa yang ia peroleh ketimbang apa yang telah ia pelajari dan apa yang sekiranya bisa ia kontribusikan selama dan setelah masa sekolah. Dengan cara pikir yang demikian, tentu sangat wajar apabila wali murid sekolah tersebut berpendapat bahwa mencontek adalah sebuah hal yang wajar. Tidak penting bahwa anak-anak mereka mengetahui sesuatu atau belajar sesuatu, tetapi nilai atau gelar mereka harus berkata lebih banyak. Maka, tidak mengherankan bahwa nilai kejujuran dan zero tolerance policy seperti yang diterapkan di banyak sekolah lainnya tidak menjadi standar. Namun, karakter macam apa yang sebenarnya ingin dibangun oleh sekolah? Apakah pendidikan itu sebenarnya? Perolehan nilai?

Penakut (fearful), tidak berdaya (powerless), dan kesulitan dalam mengatur diri sendiri (difficulty in managing ourselves). Bangsa Indonesia, bagi Julia, juga merupakan sekumpulan orang yang penakut. Salah satu hal yang menunjukkan hal ini adalah bahwa kebanyakan orang Indonesia sering bersikap egois. Egoisme dan ketakutan ini, menurut pendapat saya, juga merupakan manifestasi karakter tidak berdaya. Bukankah jika kita merasa tidak berdaya, kita cenderung bersikap egois dan menyalahkan orang lain, alih-alih menunjuk diri sendiri? Hal ini disebabkan karena kita tidak cukup kuat untuk bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Salah satu hal lain yang juga terkait adalah bahwa kemudian kita juga menjadi sulit untuk mengatur diri sendiri. Alih-alih bersikap ksatria, kita akan cenderung lebih memilih untuk bertindak emosional dan berlebihan. Karakter-karakter demikian akan kita temukan dalam bagaimana reaksi warga sekolah dalam menanggapi kasus pelaporan pencontekan ini.   Mereka, alih-alih mengakui bahwa mencontek adalah perbuatan yang salah, justru membenarkan pencontekan. Mereka juga bersikap egois dengan ingin mengusir keluarga pelapor, karena mungkin mereka beranggapan bahwa keluarga pelapor menjadi ancaman bagi mereka.

Irasional (irrational). Salah satu hal yang paling menonjol tentu adalah sikap irasional. Sikap ini jelas muncul dalam absennya logika warga sekolah dalam menilai. Kebenaran bagi mereka menjadi sebuah definisi tunggal, yaitu bahwa mereka benar selama mereka dibenarkan secara massal, dan bahwa mereka berhasil menyingkirkan orang-orang yang mengkritik mereka.

Lalu, apakah sekolah itu? Bagi saya, sistem pengajaran di banyak sekolah di Indonesia dalam kurun waktu 5-6 tahun terakhir sebenarnya telah banyak mengalami perubahan. Banyak sekolah akhirnya menerapkan sistem yang ketika saya masih kecil disebut sebagai Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), entah bagaimana disebutnya sekarang. Tapi saya mengetahui bahwa murid telah mendapat porsi berpikir dan berpendapat yang lebih dari masa saya bersekolah dulu. Namun, satu persepsi yang masih salah adalah bahwa sering kali sekolah dianggap hanya sebagai agen pencetak nilai. Penanaman nilai dan karakter baik tidak dipandang sebagai sesuatu yang penting. Hal lain yang lebih menyedihkan adalah bahwa orang tua sering kali merasa bahwa mereka tidak ada perlu dan merasa tidak harus berperan dalam mendidik anak. Hal ini disebabkan karena pendidikan dianggap sebagai bentuk formal pembelajaran matematika, kimia, atau fisika. Padahal,  pendidikan adalah proses yang lebih kompleks dari sekedar pembelajaran ilmu-ilmu tersebut. Selain itu, seharusnya orang tua harus memiliki porsi yang lebih besar dalam penularan sifat-sifat dan karakter-karakter baik, terlepas dari apakah ia bisa membantu putra-putrinya belajar fisika atau matematika. Nilai apakah yang ingin kita wariskan pada anak cucu kita? Apakah hanya nilai A atau 100 yang entah kita dapat dari mana? Atau pelajaran bahwa yang terpenting adalah selalu keberhasilan untuk bangun setelah jatuh?

Even Einstein was once called as an idiot.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.