Is There Any Luck Out There?

Four-leaf clover

Semanggi daun empat, simbol keberuntungan di ‘Barat’.

Luck. Just my luck. But, what is luck?

Does luck really exist?

Saya bukan orang yang beruntung. Salah, bukan, bukan itu maksud saya. Maksud saya, saya bukan tipe orang beruntung seperti model yang ditemukan agen bakat hanya dengan jalan-jalan di mal. Atau orang yang sering menang undian atau menang kuis. Continue reading

No Regret.

Saya tahu menurut kaidah tata bahasa yang benar titik (.) tidak boleh digunakan pada judul. Tapi saya punya alasan untuk judul ini. No Regret dalam bahasa Indonesia artinya tidak ada penyesalan, kalau mau dibuat lebih puitis mungkin harus saya terjemahkan jadi ‘Tanpa Sesal’. Entah kenapa, saya merasa ‘Tanpa Sesal’ jadi terdengar sangat kaku dan formal. Sama sekali bukan pesan yang ingin saya sampaikan. No Regret dalam hal ini adalah kesimpulan tentang apa yang baru saja saya pelajari. Dan titik (.) berarti bahwa ini adalah keputusan yang tidak mau saya tawar-tawar lagi. Continue reading

Cerita Di Balik Cerita

Tulisan kali ini saya buat untuk sedikit jujur tentang tulisan saya sebelumnya. Hehe. Ketika saya menulis tentang arsitektur gedung PTPN XI di Surabaya, sebenarnya salah satu alasan besar saya  untuk menulisnya adalah karena gedung tersebut adalah gedung kantor bapak saya. Bapak sudah pensiun sih, tapi satu hal yang masih membuat saya senang setiap kali Bapak mengajak saya ke gedung tersebut adalah karena saya sudah lama terpesona dengan cantiknya gedung itu, bahkan sejak kecil. Begitu juga dengan dua orang saudara perempuan saya. Continue reading

Cerita di Balik Arsitektur Indies ala PTPN XI

Masuk ke dalam gedungnya, saya merasa seolah menjadi semut kecil di hadapan pilar-pilar khas Yunani yang mengawal pintu besar berkaca. Sekilas saya menoleh ke arah pintu raksasa tersebut dari atas anak tangga terakhir yang saya naiki sebelum saya benar-benar berada di lobi. Saya tiba-tiba menyadari bahwa pilar di luar, pintu, dan lampu kecil yang menggantung di foyer ternyata merupakan tiga buah elemen yang diatur sedemikian rupa hingga berada pada sebuah jalur simetris yang sempurna. Pikir saya, ‘sempurna…ini dia Indies di Surabaya modern’.

Hari itu saya berkesempatan mengunjungi beberapa gedung cagar budaya di Surabaya. Lokasinya di wilayah Surabaya Utara yang notabene merupakan wilayah Surabaya lama. Jika ada waktu, berkendara ke arah utara kota Surabaya anda akan temui cantiknya arsitektur kolonial di wilayah kota tua kota ini. Meski terkadang banyak diantara gedung-gedung cantik tersebut yang sekarang terbengkalai dan tidak terurus, namun tidak demikian faktanya untuk gedung cantik yang saya kunjungi hari itu, gedung PTPN XI. Continue reading

My Yoda and Our Pep-Talk

Star Wars – The Exhibition

My last meaningful exchange I made was with my great uncle, couple of months before he passed away. A little pep-talk before I went to campus. We had our usual breakfast on the dining table. I was spooning whatever I had on my plate to my mouth, when all of sudden with his shaky voice he said smilingly, ‘Happiness is a state of mind’. Continue reading

Tukang Sihir

Dalam panjang waktu 35 tahun hidupnya, Elda Rahmi, atau biasa dikenal oleh tetangga sebagai bu Arman, sama sekali tidak pernah percaya dongeng tentang kuntilanak atau genderuwo. Pernah mungkin, dulu waktu ia masih kecil. Tapi bukankah semua anak kecil selalu percaya hal-hal mistis? Namun, sejak ia sudah remaja ia tahu itu semua hanya dongeng isapan jempol yang sekali dua kali saja ia percaya ketika ia harus datang melayat atau pergi ke pemakaman. ‘Lho, bukankah tidak ada juga manusia yang mau ditempeli sawan-sawan kuburan?’, pikirnya. Tetapi, mau tidak mau sekarang ia termakan juga oleh cerita ibu-ibu tetangga. Ternyata memang tukang sihir itu ada. Dan jumlahnya ada 3. Dan mereka tinggal tepat di muka rumahnya. Di rumah kecil tipe 36 dimana sebuah mobil sedan tua terparkir di bawah naungan atap garasi yang agak menjorok ke muka. Hanya saja, Elda tahu, tukang sihir jaman sekarang telah bertransformasi. Mereka bukan lagi tukang sihir seperti dalam dongeng Putri Salju. Sekarang mereka adalah perempuan-perempuan tak tahu diri yang tinggal di rumah depan itu. Continue reading

Si Gadis Konser Superhero

“Hmmm….apa apa…” aku tergagap bangun secara mendadak dari tidurku yang pulas ketika mendapati kepalaku ditimpuki kerikil kecil.

Wajahnya sudah menyembul di balik kaca nako kamarku. Gorden yang sudah kututup tadi malam digeser ke samping olehnya. Rambutnya yang spikey dan pendek sebahu menempel di balik kaca nako yang seperempat terbuka. Nampaknya dibuka olehnya.

“Ayo keluar…” ia berujar. Wajahnya manyun. Sepertinya ia habis melewatkan malam yang panjang. Continue reading